B
bursamineral.id
Beli Domain
Edukasi Pasar Komoditas

Daftar Komoditas Strategis Indonesia: Tambang, Sawit, Udang hingga Pangan

Komoditas strategis Indonesia meliputi batu bara, nikel, CPO, udang, kakao, kopi, beras hingga pangan yang penting bagi ekonomi dan ekspor.

BTim Redaksi bursamineral.idKamis, 3 September 2026Waktu baca ± 7 menit
⚠️ Disclaimer: BursaMineral.id adalah platform informasi independen dan bukan situs resmi pemerintah, OJK, atau penyelenggara bursa. Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan, investasi, atau hukum. Informasi dapat berubah seiring perkembangan regulasi.

Jakarta, Bursa Mineral - Indonesia memiliki beragam komoditas yang mempunyai peran penting bagi perekonomian, perdagangan internasional, industri, energi, serta ketahanan pangan.

Komoditas tersebut berasal dari berbagai sektor, mulai dari pertambangan, energi, perkebunan, pertanian, kelautan dan perikanan hingga pangan.

Sejumlah komoditas memiliki kontribusi besar terhadap ekspor Indonesia, sementara komoditas lainnya dianggap strategis karena berkaitan dengan kebutuhan masyarakat, industri dalam negeri, ketahanan pangan, atau pengembangan hilirisasi.

Perlu dicatat, istilah komoditas strategis Indonesia tidak merujuk pada satu daftar tunggal yang mencakup seluruh komoditas. Pengelompokannya dapat berbeda tergantung konteks kebijakan pemerintah, perdagangan, pangan, energi, maupun industri.

Apa Itu Komoditas Strategis?

Secara umum, komoditas strategis adalah komoditas yang mempunyai arti penting bagi perekonomian, perdagangan, industri, energi atau kebutuhan masyarakat.

Karena memiliki fungsi yang berbeda, komoditas dengan nilai ekspor terbesar belum tentu selalu menjadi komoditas pangan strategis. Sebaliknya, komoditas yang penting untuk konsumsi domestik seperti beras dapat memiliki nilai strategis meskipun karakter perdagangannya berbeda dengan batu bara atau nikel.

Dalam konteks perdagangan, Indonesia memiliki sejumlah komoditas dengan nilai ekspor yang besar. Data Kementerian Perdagangan menunjukkan ekspor nonmigas Indonesia pada 2025 mencapai sekitar US$269,72 miliar. Kelompok lemak dan minyak, besi dan baja, serta sejumlah produk pertambangan dan industri menjadi bagian penting dalam struktur ekspor tersebut.

1. Batu Bara

Batu bara merupakan salah satu komoditas utama sektor pertambangan Indonesia dan memiliki peran besar dalam perdagangan internasional.

Data Kementerian Perdagangan mencatat ekspor batu bara non-aglomerasi pada 2025 mencapai sekitar US$18,44 miliar. Sementara kelompok batu bara bituminus dan lignit juga memberikan tambahan nilai ekspor yang besar.

Selain menjadi komoditas ekspor, batu bara juga berkaitan erat dengan kebutuhan energi, terutama pembangkitan listrik dan industri.

Karena itu, perubahan harga batu bara global, permintaan negara tujuan ekspor serta kebijakan energi dapat memengaruhi kinerja sektor pertambangan Indonesia.

2. Nikel dan Produk Turunannya

Nikel menjadi salah satu mineral penting Indonesia seiring berkembangnya kebijakan hilirisasi.

Peran nikel tidak hanya berkaitan dengan penambangan, tetapi juga pengolahan dan pemurnian untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Salah satu produk yang memiliki nilai ekspor besar adalah ferro-nickel. Data Kemendag mencatat ekspor ferro-nickel mencapai sekitar US$16,39 miliar pada 2025, meningkat 16,52% dibandingkan 2024. Ekspor produk antara metalurgi nikel juga mencapai sekitar US$5,41 miliar.

Perkembangan tersebut menjadikan nikel salah satu komoditas penting dalam agenda hilirisasi dan pengembangan industri berbasis mineral.

3. Bahan Bakar Mineral dan Produk Energi

Komoditas energi juga mempunyai posisi penting dalam perdagangan Indonesia.

Dalam statistik ekspor, kelompok bahan bakar mineral, minyak mineral dan produk hasil penyulingannya merupakan salah satu kelompok komoditas utama.

Komoditas energi memiliki keterkaitan yang luas dengan perekonomian karena digunakan dalam transportasi, industri, pembangkitan listrik dan berbagai aktivitas produksi.

Pergerakan harga energi global dapat berpengaruh terhadap biaya produksi dan harga berbagai barang maupun jasa.

4. Kelapa Sawit dan CPO

Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan paling penting bagi Indonesia.

Produk sawit tidak hanya diperdagangkan dalam bentuk crude palm oil (CPO), tetapi juga berbagai produk olahan dan turunannya.

Data Kemendag menunjukkan kelompok lemak dan minyak hewani, nabati atau mikroba merupakan kelompok ekspor nonmigas terbesar pada 2025, dengan nilai sekitar US$34,35 miliar dan pangsa 12,74%. Kelompok tersebut mencakup berbagai produk, termasuk produk berbasis minyak sawit.

Besarnya pasar sawit membuat komoditas ini penting bagi ekspor, industri pengolahan dan perdagangan internasional Indonesia.

5. Karet

Karet alam merupakan komoditas perkebunan yang telah lama menjadi bagian dari perdagangan ekspor Indonesia.

Karet digunakan sebagai bahan baku berbagai industri, terutama ban, otomotif, manufaktur dan produk berbasis karet lainnya.

Posisi karet dalam perdagangan global membuat produksinya dipengaruhi oleh permintaan industri, harga komoditas, kondisi perkebunan serta perkembangan pasar dunia.

6. Kakao

Kakao termasuk komoditas pertanian dan perkebunan yang memiliki pasar ekspor.

Indonesia tidak hanya mengekspor biji kakao, tetapi juga produk olahan. Pengembangan industri pengolahan menjadi penting karena dapat meningkatkan nilai tambah sebelum produk memasuki pasar internasional.

Dengan karakter tersebut, kakao dapat dipandang sebagai salah satu komoditas pertanian yang memiliki arti strategis bagi perdagangan dan pengembangan industri pengolahan.

7. Kopi dan Rempah-rempah

Kopi, lada, cengkeh, pala, kayu manis dan komoditas rempah lainnya merupakan produk pertanian yang memiliki sejarah panjang dalam perdagangan internasional Indonesia.

Dalam data Kemendag, kelompok kopi, teh, mate dan rempah-rempah mencatat nilai ekspor sekitar US$3,26 miliar pada 2025, naik 29,61% dibandingkan 2024.

Komoditas tersebut juga memiliki potensi pengembangan produk olahan sehingga nilai tambahnya tidak hanya berasal dari ekspor bahan mentah.

8. Udang

Udang merupakan salah satu komoditas strategis Indonesia dari sektor kelautan dan perikanan, terutama jika dilihat dari kontribusinya terhadap ekspor.

Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat ekspor produk perikanan Indonesia pada 2025 mencapai US$6,27 miliar.

Dari jumlah tersebut, udang menjadi penyumbang terbesar dengan nilai US$1,87 miliar atau sekitar 29,8% dari total ekspor produk perikanan. Nilai tersebut meningkat 11,2% dibandingkan 2024.

Selain udang, komoditas ekspor perikanan Indonesia lainnya mencakup tuna-cakalang, cumi-sotong-gurita, rajungan-kepiting dan rumput laut.

Besarnya kontribusi udang membuat komoditas ini penting bagi industri budidaya, pengolahan hasil perikanan, rantai pasok dan perdagangan ekspor Indonesia.

Dengan demikian, pembahasan komoditas strategis Indonesia tidak seharusnya hanya berfokus pada tambang dan perkebunan. Sektor kelautan dan perikanan, terutama udang, juga memiliki posisi penting dalam perdagangan global.

9. Beras

Beras memiliki karakter yang berbeda dengan komoditas ekspor seperti batu bara, nikel atau udang.

Nilai strategis beras terutama berasal dari perannya sebagai bahan pangan utama dan pengaruhnya terhadap daya beli serta inflasi.

Bank Indonesia melalui Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional memasukkan beras sebagai salah satu komoditas pangan strategis yang dipantau. Sistem tersebut juga memantau berbagai komoditas pangan lain yang berkontribusi terhadap pembentukan inflasi, khususnya volatile food.

Karena konsumsi beras sangat besar, perubahan produksi, distribusi dan harga beras dapat memberikan dampak luas terhadap masyarakat.

10. Cabai dan Bawang

Selain beras, komoditas seperti cabai, bawang merah dan bawang putih juga mendapat perhatian dalam pemantauan harga pangan.

PIHPS Nasional memantau harga berbagai jenis beras, bawang merah, bawang putih, cabai, daging, gula, minyak goreng dan telur ayam ras.

Komoditas tersebut penting terutama dari sisi stabilitas pasokan dan harga di dalam negeri.

Produksi yang dipengaruhi musim, cuaca dan distribusi dapat menyebabkan harga bergerak lebih cepat dibandingkan sejumlah komoditas lainnya.

11. Minyak Goreng dan Telur Ayam Ras

Minyak goreng dan telur ayam ras juga termasuk komoditas yang dipantau dalam sistem harga pangan strategis nasional.

Kedua komoditas tersebut mempunyai hubungan langsung dengan konsumsi rumah tangga dan pengeluaran masyarakat.

Karena itu, perubahan harga minyak goreng dan telur dapat menjadi perhatian dalam menjaga kestabilan harga kebutuhan pokok.

Komoditas Strategis Indonesia Menurut Sektornya

Untuk mempermudah pemahaman, sejumlah komoditas yang mempunyai peran strategis bagi Indonesia dapat dikelompokkan sebagai berikut:

SektorKomoditasPertambanganBatu bara, nikel, ferro-nickel dan produk mineralEnergiBahan bakar mineral dan produk energiPerkebunanKelapa sawit/CPO, karet, kakaoPertanianKopi dan rempah-rempahKelautan dan perikananUdang, tuna-cakalang, rajungan-kepiting, rumput lautPanganBeras, minyak goreng, telur ayam rasHortikulturaCabai, bawang merah, bawang putih

Pengelompokan tersebut bukan daftar resmi tunggal pemerintah, melainkan pengelompokan berdasarkan peran komoditas dalam perdagangan, industri, pangan dan perekonomian Indonesia.

Bursa Mineral dan Komoditas Strategis

Pembahasan mengenai komoditas strategis juga menjadi semakin relevan setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyiapkan pengaturan dan pengawasan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS).

Pada 19 Agustus 2026, OJK melantik Henry Rialdi sebagai Deputi Komisioner Pengaturan dan Pengawasan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis. OJK menyebut langkah tersebut merupakan bagian dari penguatan kapasitas kelembagaan untuk menjalankan mandat berdasarkan Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan.

Kehadiran BMKS nantinya berkaitan dengan upaya memperkuat tata kelola serta transparansi perdagangan dan pembentukan harga komoditas strategis.

Hal tersebut menjadi penting bagi Indonesia karena sejumlah komoditas memiliki posisi besar dalam rantai pasok global. Selain meningkatkan transparansi, mekanisme perdagangan yang lebih terorganisasi juga dapat memperkuat posisi Indonesia dalam pembentukan harga komoditas tertentu.

Kesimpulan

Komoditas strategis Indonesia tidak hanya berasal dari pertambangan dan energi. Perkebunan, pertanian, kelautan dan perikanan serta pangan juga memiliki peran penting dengan karakter masing-masing.

Batu bara dan nikel penting bagi sektor pertambangan dan industri, sementara kelapa sawit menjadi salah satu komoditas utama perdagangan Indonesia. Di sektor kelautan dan perikanan, udang menjadi komoditas ekspor terbesar pada 2025 dengan nilai US$1,87 miliar.

Sementara itu, beras, cabai, bawang, minyak goreng dan telur memiliki arti strategis terutama dari sisi ketahanan pangan dan stabilitas harga domestik.

Dengan semakin berkembangnya kebijakan hilirisasi dan persiapan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis, pengelolaan komoditas Indonesia ke depan tidak hanya akan berkaitan dengan produksi dan ekspor, tetapi juga pembentukan harga, transparansi perdagangan dan peningkatan nilai tambah di dalam negeri.

Disclaimer

Bursamineral.id merupakan situs informasi independen yang menyajikan berita, data, analisis, dan informasi mengenai mineral, komoditas strategis, pertambangan, energi, serta perkembangan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis.

Situs ini tidak berafiliasi, tidak mewakili, dan bukan merupakan situs resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kementerian/lembaga pemerintah, maupun penyelenggara Bursa Mineral dan Komoditas Strategis, kecuali dinyatakan secara tegas pada suatu artikel atau halaman.

Informasi yang dimuat bersumber dari berbagai sumber publik dan disajikan untuk tujuan informasi umum. Pembaca disarankan melakukan verifikasi kepada sumber resmi sebelum menggunakan informasi untuk kepentingan bisnis, investasi, perdagangan, maupun pengambilan keputusan lainnya.

Nama bursamineral.id digunakan sebagai identitas situs dan tidak dimaksudkan untuk menyatakan status sebagai penyelenggara, operator, regulator, atau pihak resmi Bursa Mineral.

Bursamineral.id tidak memberikan rekomendasi investasi, ajakan membeli atau menjual komoditas maupun instrumen keuangan. Segala keputusan yang diambil berdasarkan informasi dari situs ini merupakan tanggung jawab pembaca.